Langsung ke konten utama

Postingan

Unggulan

Panas Membakar Kulit Desa

  Akhirnya, setelah bertahun-tahun merantau kekota orang, kembali ke tempat asal merupakan sedikit momen yang ingin kita ulangi sekali lagi. Melihat sawah-sawah hijau, hewan ternak yang melindungi anaknya dari terik panas dan lain sebagainya. Desa merupakan pelarian setiap orang untuk mencari ketenangan dari sibuknya kota.  Namun, kali ini ada yang berbeda. Teriknya matahari tidak lagi terasa hangat seperti dulu, ia membakar, menyengat tanpa ampun. Jalanan tanah yang dulu lembap kini retak-retak, menyerupai keriput bumi kehausan. Petani menatap langit dengan harapan, berharap hujan turun sebagai anugerah yang menenangkan. Tapi awan seakan-akan enggan datang.  Di sudut desa, anak-anak kecil berlari tanpa alas kaki, kulit mereka yang kecokelatan semakin gelap karena panas yang mengigit. Di tepi sawah, seorang kake duduk di bawah pohon rindang yang tak lagi serindang dulu. "Dulu, panas tidak sekejam ini," gumamnya pelan.  Panas bukan sekedar suhu; ia menjadi simbol peru...

Postingan Terbaru

Orang Desa Nggak Main Saham? Emang Boleh Presiden Ngomong Gitu

Rasa Puasa Bandara

Sampah, Masalah atau Investasi Tersembunyi

The Genius of Risk: Elon Musk's Unique Path of Business Triumph

The Bold Vision of Steve Jobs: From iPhone to Digital Domination

From Trash to Treasure: Singapore's Bold Waste Management Strategies

Microtransactions and Gaming: Balancing Profit and Player Satisfaction

Beyond Gaming: unlocking the Metaverse's Extraordinary Economic Potential

Prepare for the Crimson Night's Fade: Arlecchino Arrives in Genshin

Cryptocurrency Crash: Bitcoin Plummets Amidst Regulatory Concerns and Monetary Tightening