Panas Membakar Kulit Desa
Akhirnya, setelah bertahun-tahun merantau kekota orang, kembali ke tempat asal merupakan sedikit momen yang ingin kita ulangi sekali lagi. Melihat sawah-sawah hijau, hewan ternak yang melindungi anaknya dari terik panas dan lain sebagainya. Desa merupakan pelarian setiap orang untuk mencari ketenangan dari sibuknya kota. Namun, kali ini ada yang berbeda. Teriknya matahari tidak lagi terasa hangat seperti dulu, ia membakar, menyengat tanpa ampun. Jalanan tanah yang dulu lembap kini retak-retak, menyerupai keriput bumi kehausan. Petani menatap langit dengan harapan, berharap hujan turun sebagai anugerah yang menenangkan. Tapi awan seakan-akan enggan datang. Di sudut desa, anak-anak kecil berlari tanpa alas kaki, kulit mereka yang kecokelatan semakin gelap karena panas yang mengigit. Di tepi sawah, seorang kake duduk di bawah pohon rindang yang tak lagi serindang dulu. "Dulu, panas tidak sekejam ini," gumamnya pelan. Panas bukan sekedar suhu; ia menjadi simbol peru...